Riset PR



Hasil gambar untuk riset prSesungguhnya, aktivitas Humas terjadi, dalam  suatu rangkaian kegiatan yang berlangsung  secara terus-menerus. Kegiatan itu tidak bersifat sporadis, atau terjadi  mendadak, tanpa persiapan matang. Secara konseptual, bila kita melihat kembali tahapan dalam proses  kegiatan Humas, terlihat bahwa aktivitas riset merupakan langkah awal, sebelum seluruh aktivitas lainnya  dilakukan, yaitu aktivitas prencanaan program, aksi dan komunikasi, yang dilanjutkan dengan evaluasi program. Kegiatan evaluasi sebagai suatu tahapan akhir dari proses Humas, sebenarnya berkaitan dengan aktivitas riset.  Aktivitas riset bisa membantu praktisi humas   mengetahui,  bagaimana situasi saat ini. Kegiatan riset pun bisa membantu praktisi humas mengetahui pendapat umum (para stakeholders), kendala-kendala pelaksanaan program humas. Selain itu, yang tidak kalah penting, riset berguna  untuk menguji keberhasilan dari program kehumasan.
Kegiatan riset  untuk aktivitas kehumasan bisa dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif maupun kualitatif. Secara teoretis, perbedaan mendasar metode kuantitatif dengan kualitatif, melahirkan diskusi panjang,  sehingga tidaklah  cukup memadai bila  dijelaskan dalam Kolom singkat ini. Perbedaannya bisa menyangkut berbagai aspek: mulai dari penggunaan paradigma,  data yang digunakan, hingga pada penggunaan instrumen penelitian. Walau kedua metode ini berbeda, dalam rangka kegiatan kehumasan, keduanya menjadi penting dan sangat relevan untuk menunjang keberhasilan kerja seorang praktisi Humas.
Kedua metode penelitian – kuantitatif maupun kualitatif – memiliki berbagai varian. Untuk penelitian kuantitatif, beberapa metode bisa digunakan, misalnya dengan metode survey yang, bertujuan untuk mengetahui pendapat dari suatu target populasi. Bisa jadi populasi yang ditentukan, mewakili para stakeholders. Metode kuantitatif pun bisa dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Sedangkan dalam kaitan dengan  metode kualitatif terlihat begitu banyak metode yang bisa diaplikasikan, misalnya saja dengan menggunakan etnografi, penelitian dasar (grounded research), studi kasus, fenomenologi, naratif atau bisa juga dengan menggunakan analisis teks seperti framing, hermeneutic, dan sebagainya.
Setidak-tidaknya, ada tiga tujuan utama kegiatan riset. Pertama, menggambarkan suatu proses, situasi atau fenomena (kenyataan sosial). Kedua, menjelaskan mengapa suatu kemungkinan terjadi, dan apa penyebab dan apa pengaruh  kejadian itu. Ketiga, kegiatan penelitian pun dilakukan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi  jika akan bertindak atau melakukan tindakan.
Praktisi Humas dewasa ini, kiranya harus mampu membuat pemetaan terhadap stakeholders dan juga mencari tahu apa persoalan-persoalan yang dihadapi untuk setiap stakeholders tersebut. Pemahaman mengenai persoalan yang terjadi pada masing-masing stakeholders hanya bisa dijangkau melalui kemampuan dan kepiawaian untuk menembus esensi masalah  yang,  antara lain bisa dijangkau  melalui kegiatan-kegiatan riset. Karena itu, sangat penting bagi seorang praktisi Humas untuk selalu terbiasa mendapatkan atau menyentuh  jantung persoalan melalui aktivitas  riset.
Semua metode riset  sebagaimana telah diutarakan di atas, akan menjadi  bekal seorang praktisi Humas dalam mendapatkan berbagai informasi dan fakta, sebelum ia melakukan atau merancang kegiatan-kegiatan kehumasan. Atau, bisa pula salah satu metode ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai kegiatan kehumasan yang sudah dijalankan sehingga pada akhirnya seluruh rangkaian kegiatan itu bisa mendapatkan hasil yang sangat maksimal.

SUMBER

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka dengan Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif Periode Tahun 2015-2020 Keren Menurut Anggun Nur Andini Bratama

Marketing PR&MICE

Etika PR